Terkait pembahasan produksi ujaran, alangkah baiknya jika kita flesh back pada pembahasan tindak ujaran, agar pada pembahasan ini kita dapat mengikuti istilah-istilah yang ada.
Berkenaan dengan ujaran menurut Austin (dalam Leech terjemahan Oka 1993 : 316), sebagaimana dikutip oleh Nur Aini ada tiga jenis tindakan yakni: (1) tindak lokusi (lokuitionary act), (2) tindak ilokusi (ilokuitionary act), (3) tindak perlokusi (perlokuitionary act).
Saat memproduksi ujaran, terkadang kita merasakan berbagai hal yang mempengaruhi tindak ujaran. Hal ini sering tidak dimengerti, karena posisi kita sebagai penutur, di mana dalam berkomunikasi kita memerlukan perencanaan mental.
Proses demikian ini, menyangkut berbagai asperk. Aspek pertama berkaitan dengan pengetahuan interlokutor—orang yang diajak bicara. Suatu kalimat tidak memiliki makna bagi pendengar, jika semua informasi yang ada di dalamnya adalah informasi baru.
Aspek kedua adalah bahwa dalam berkomunikasi tiap peserta memiliki prinsipel kooperatif. Selain itu, kita juga dituntut untuk memperhatikan aspek-aspek pragmatik dari ujaran-ujaran kita.
George Yule mendefinisikan, sebagaimana dikutip oleh Makyun Subuki, ”Pragmatik merupakan: (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.”
Pada aspek ini, Djardjowidjojo memberikan contoh:
a. Ibu arep tindak endi? ’Ibu mau pergi ke mana?
b. kowe arep lugo endi? ’Kamu mau pergi ke mana?
Sebagai orang yang bergelut dalam bidang sastra, sekaligus notabenenya jawa tulen, penulis tidak sepakat dengan adanya contoh (a) kata `arep`, kemudian disandingkan dengan kata’tindak`.
Penulis melihat Djardjowidjojo kurang kosisten dalam menggunakan teori terapannya. Contoh yang lebih tepat seharusnya, ”Ibu badhe tindak pundi?”. Kalimat ini lebih sesuai penggunaanya, jika pragmatik ditekankan, karena melihat leksikon bahasa jawa terdapat kata-kata yang rinci untuk mengungkapkan maksud yang diinginkan secara tepat. Sebagaimana contoh bahasa Arab juga terdapat kata-kata yang rinci untuk mengungkapkan maksud yang diinginkan secara tepat. misal:
كيف حالكم؟
A. LANGKAH UMUM DALAM MEMPRODUKSI UJARAN
Soejono Djardjowidjojo mendefinisikan, ”Proses dalam memproduksi ujaran dapat dibagi menjadi empat tingkat: (1) tingkat pesan, di mana pesan yang akan disampaikan diproses, (2) tingkat fungsional, di mana bentuk leksikal dipilih kemudian diberi peran dan fungsi sintaktik, (3) tingkat posisional, di mana konstituen dibentuk dan afiksasi dilakukan, dan (4) tingkat filologi, di mana struktur fonologi ujaran itu diwujudkan. ”
Pada tingkat pesan, pembicara mengumpulkan nosi-nosi dari makna yang ingin disampaikan. Sebagaimana contoh di bawah ini:
”Tutiek sedang menyuapi anaknya”
Dalam bahasa arab:
“تلقم فاطمة بنتها”
Nosi-nosi yang ada pada benak pembicaraan antara lain; (a) adanya seseorang, (b) orang ini wanita, (c) dia sedah menikah, (d) dia mempunyai anak, (e) dia sedang melakukan perbuatan, (f) perbuatan itu adalah menyuapi anaknya.
Pada tingkat fungsional, yang diproses ada dua hal. Pertama, memilih bentuk leksikal yang sesuai dengan pesan yang akan disampaikan dan informasi gramatikal untuk masing-masing yang dia kenal, wanita yang dimaksud adalah Tutiek, dan kata ini adalah nama orang perempuan; perbuatan yang dilakukan diwakili oleh verba dasar suap; antara argument Tutiek dan anaknya, Tutiek adalah pelaku perbuatan sedang anaknya adalah resipiennya.
Proses kedua pada tingkat fungsional adalah memberikan fungsi pada kata yang telah dipilih. Proses di sini menyangkut hubungan sintaktik gramatikal atau fungsi gramatikal. Pada contoh diatas, kata Tutiek harus dikaitkan dengan fungsi subjek sedangkan anaknya pada objek. Pada bahasa-bahasa tertentu, seperti Jerman fungsi-fungsi ini dimarkahi oleh kasus-kasus khusus seperti kasus normative dan kasus objektif. Kata dia (pria), misalnya, adalah kasus er untuk kasus normative tetapi menjadi ihn untuk kasus objektif.
Pada tingkat pemrosesan posisisonal, diurutkan bentuk leksikal untuk ujaran yang akan dikeluarkan. Pengurutan bentuk leksikal untuk ujaran yang akan dikeluarkan. Pengurutan ini bukan berdasarkan pada jejeran yang linear tetapi pada kesatuan makna yang hierarkhis. Pada contoh tersebut, kata sedang bertaut dengan anak, dan bukan pada Tutiek atau menyuapi. Hierarki konstituen inilah yang menjadi dasar diagram pohon.
Setelah pengurutan selesai, diproseslah afiksasi yang relavan. Pada bahasa Indo-Eropa seperti bahasa Inggris, verba menyuapi (to feed) untuk kalimat tersebut haruslah mendapatkan afiks infleksional –ing (feeding). Untuk bahasa Indonesia, verba dasar suap harus ditambah dengan suffix –i (di samping perfiks meN –secara opsional).
Hasil dari pemrosesan posisional ini “dikirim” ke tingkat fonologi untuk diwujudkan dalam bentuk bunyi. Pada tahap ini aturan fonotaktik bahasa Indonesia, teapi Ktuiek tidak. Kata ini tentunya ditolak. Begitu juga vocal /u/ dan /i/ harus berurutan seperti itu karena kalau dibalik, Tietuk, referennya akan lain. Proses fonologis ini tidak sederhana kaena tersangkut pula di sini proses biologis neurologis.
B. RINCIAN PRODUKSI UJARAN
Saat memproduksi ujaran, seseorang akan mulai merencanakan yang berkaitan dengan topic yang akan diujarkan, kemudian turun ke kalimat yang akan dipakai, dan diturunkan kembali ke konstituen yang akan dipilih. Setelah itu, barulah dia masuk ke pelaksanaan dari yang akan diujarkan. Hal ini mencakup rencana artikulasi dan bagaimana mengartikulasikannya.
Clark dan Clark mendefinisikan prosedur ini, sebagaimana di kutip Djarwowidjodjo, sebagaimana di bawah ini:
a. Wacana
Perencanaan b. Kalimat
c. Konstituen
Produksi a. Program artikulasi
Pelakasanaan
b. Artikulasi
B.1. Perencanaan Produksi Wacana
Wacana dibagi menjadi dua macam (a) dialog dan (b) monolog. Perbedaan utama antara dua macam ini terutama terletak pada tindak interaksi antara pembicara dengan pendengar. Pada dialog terdapat paling tidak dua pelaku, yakni yang berbicara dan yang diajak bicara, interlokutornya. Pada wacana monolog hanya terdapat satu pelaku saja. Kalau wacana itu lisan, hanya ada satu pembicara; kalau wacana tulis, hanya penulis sebagai pelakunya.
Wacana tertulis disamping menempati ruang juga disusun dan dibaca pada saat-saat tertentu dalam waktu. Dimensi waktu serupa diberikan pada teks lisan melalui tindak pemroduksian teks oleh penutur dan tindak penerimaan teks oleh mitra tutur dalam waktu khusus. Sebagaimana contoh di bawah ini:
You must made a strong point there
(Anda harus mengajukan pendapat yang kuat di sana)
That claim was rather week
(Klaim itu agak lemah)
In the next section I present on opposing view.
(Dalam bagian yang akan datang saya mengajukan satu pandangan bertentangan)
The last capter was extremely boring
Bab terakhir itu amat membosankan
Dalam kedua ujaran yang pertama, istilah deiksis tempat `there` dan `that` menempatkan pendapat dan klaim dalam konteks wacana sebelumnya. Dalam ujaran terakhir, ungkapan deiksis waktu `next` dan `last` sebagai refennya memiliki masing-masing bagian konteks wacana sebelumnya dan yang akan datang. Fungsi deitiknya dalam ujaran-uajaran ini erat kaitannya dengan fungsi deiktik waktu. `This` dan `that` dan erat hubungannya dengan pendukung ujaran-ujaran ini dalam waktu yang riil sebagai bagian (yang paling mungkin) dari teks lisan. Dengan cara demikian, penutur ujaran yang pertama mengacu pada satu pendapat yang telah dilontarkan oleh penutur beberapa waktu sebelumnya.
B.2. Perencanaan Produksi Kalimat
Menurut clark, sebagaimana dikutip oleh Dardjowidjojo, terdapat tiga kategori yang perlu diproses: muatan proposional (prpotional content), muatan ilokusioner dan struktur tematik.
Pada muatan proposional pembaca akan mendapatkan di mana pembicara menentukan proposisi apa yang ingin dia nyatakan. Sedangkan pada muatan ilokusioner adalah makna yang akan diwujudkan itu seperti apa. Di sinilah peran tindak ujar muncul. Kemudian pada struktur tematik berkaitan dengan penentuan berbagai unsur dalam kaitannya dengan fungsi gramatikal atau semantik dalam kalimat.
B.3. Perencanaan Produksi Konstituen
Setelah perencanaan kalimat selesai dibuat, maka beralihlah pembicara pada tataran konstituen yang membentuk kalimat tersebut. Di sinilah dipilihnya kata yang maknanya tepat seperti yang dikehendaki. Seandainya referennya adalah seorang pria, maka kalau dia suka dengan orang tersebut, maka pilihlah kata si rajin atau ustazd. Sebaliknya, jika pembicara dalah pembenci pria, yang mungkin dipilihnya adalah si pemalas. Dengan demikian, kalimat di bawah (a) dan (b) merujuk pada referen yang sama.
(a) Tuh, si rajin duduk
(b) Tuh, si malas duduk
C. Hubungan Antara Komprehensi dan Produksi
Suatu kata dapat diproduksi hanya bila telah ada komprehensi sebelunya. Produksi merupakan cermin balik dari komprehensi dengan tambahan proses-proses tertntu. Pada komprehensi orang menerima input untuk kemudian disimpan dalam memori. Pada produksi kata yang tersimpan itu dicari kembali untuk kemudian diujarkan.
D. Kesimpulan
Penulis menyimpulkan bahwa ujaran diproses melalui tiga tahap: konseptualisasi, yakni tahap di mana pembicara merencanakan struktur konseptual yang akan disampaikan. Formulasi, yakni tahap di mana lema yang cocok diretrif dari leksikon mental kita dan kemudian diberi kategori struktur sintaktik serta afiksasi. Tahap artikulasi yakni, tahap di mana kerangka serta isi yang sudah jadi, itu diwujudkan dalam bentuk bunyi.
DAFTAR PUSTAKA
Cumming, Louise. Pragmatik: Sebuah Perspektif Multidisipliner. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar). 2007.
Djardjowidjojo, Soejono. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Manusia. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia). 2003.
Heriyanto dan Leenawaty. Produksi Karotenoid Limantara. Diakses 19 Oktober 2009 (http://www.kopertis6.or.id/download/Volume%204%20Nomor%207%20%20Mei%202009.pdf ).
Rohim, Fathur. Ungkapan Deiksis. Diakses 19 Oktober 2009 (http://masfathur.wordpress.com/language/).
Aini, Nur. Variasi Tindak Tutur dalam Kursus Panatacara
Permadani Semarang. Diakses 19 Oktober 2009. (http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi.1/tmp/1912.html).
Subuki, Makyun. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?. Diakses 19 Oktober 2009. (http://www.scribd.com/doc/14548085/pragmatik?autodown=doc).
Komentar temen2